Hipster in Me is The Hipster in You

Mungkin emang bertepatan dengan kampanye Cagub & Wagub DKI Jakarta yang mengumbar janji madu angin surga. Gua juga berjanji bahwasanya gua akan mencoba mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan yang mencerminkan pengetahuan gua tentang apapun yang sebenernya gua nggak tau tentang apapun yang gua tulis. Tapi bodo amat! Kayaknya punya blog itu adalah hal wajib di era internet ini, Menjadi seorang blogger adalah sesuatu hal yang nge-Hip & selalu ada jiwa Hipsterdidalam diri setiap orang!

Jadi seorang yang menulis di blog adalah sebuah pekerjaan yang mudah sekaligus trendy & otomatis akan mudah terkenal selama blognya isinya nggak bikin yang baca pusing. Kita serahkan saja blog dengan tema politik, sosial, budaya & seni kepada mereka yang sering nongkrong di Teater atau ngopi-ngopi di galeri seni sambil mendiskusikan buku yang sama sekali nggak rame buat dibaca. Sedangkan gua & blog ini hanya akan membicarkan hal-hal yang Insya Allah akan menjadi bekal dalam kehidupan di dunia yang penuh hipsters.

Kalau menulis di blog adalah pekerjaan yang dikemudian hari bakal menghasilkan uang dengan sistim Google Adsense, mungkin udah seharusnya gua meninggalkan kantor gua & berkonsentrasi penuh pada dunia perbloggingan ini. Tapi gua nggak berani ambil resiko & membayangkan saat calon mertua gua bertanya….

Mertua : Kamu pekerjaannya apa?
Gua : Saya menulis…
Mertua : Wartawan atau Penulis?
Gua : Blogger
Mertua : Apa itu blogger?
Gua : Menulis di internet
Mertua : Oh… Fesbuk!

Menjadi seorang blogger mungkin keren dimata para hipster, apalagi kalau kebetulan lo bikin kartu nama & mencantumkan alamat blog lu dibawah nomer telpon, tapi buat para orang tua, eksistensi seorang blogger itu bukanlah pekerjaan yang memiliki citra eksklusif, karena apa? Karena nggak ada Jamsostek & asuransi kesehatan dalam profesi seorang blogger.

Tapi karena gua adalah seorang bloghipsterian, semua itu nggak perlu, selama gua bisa dapet banyak followers di twitter & ratusan icon like di fanpage facebook, semua itu udah mencukupi nilai luhur kehipsteran gua, siapa peduli uang jamsostek kalo seorang hipster bisa jadi buzzer dengan modal retweet & copywriting asal-asalan sepanjang 140 karakter? Sepele!

Namun kemudian gua ternyata terpentok kepada sebuah masalah krusial yang lebih krusial daripada seseorang berkacamata yang hidup dibawah rezim Polpot di kamboja. Gua kekurangan modal buat jadi seorang hipster yang sakit mandraguna. Gua sangat kurang uang untuk nonton di Blitz Megaplex, gua sangat miskin untuk beli kopi seharga puluhan ribu di Starbucks & memanfaatkan akses wifinya, gua nggak pake product apple & nggak punya account di instagram. Damn! Bahkan gw nggak punya kaos V-neck.

Sekarang bandingkan dengan para hipster original yang punya semua hal yang gua sebutin diatas. Lalu kemudian akhirnya gua sadar bahwa sangatlah percuma mencitrakan diri sebagai seorang Hipster. Lagi pula yang gua lakukan disini adalah menulis di blogger, menulis dengan merangkai kata-kata & mengorigamikan rima, sebuah kegiatan menulis yang memerlukan kerja otak.

Sedangkan para Hipster nggak akan menggunakan otak mereka untuk menulis, itu makanya kebanyakan dari mereka menggunakan…… TUMBLR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: